[FANFICTION] Potongan Kisah si Orang Ketiga
POTONGAN
KISAH SI ORANG KETIGA
.
.
.
Author:
Hana_fk
Cast:
NCT’s Doyoung, GOT7’s Jinyoung, BLACKPINK’s Jisoo
Length:
Oneshoot
Genre:
Comedy, Slice of Life
Rating:
PG – 15
.
.
.
Happy
Reading
Jadi orang ketiga memang susah-susah
asoy, enaknya kalau masalah uang mah gampang—saya hanya perlu datang dan duduk
manis, kemudian pundi-pundi rupiah akan lancar masuk ke rekening bak air sungai
mengalir ke hilir, halangannya paling karena sampah yang dibuang orang tak tahu
diri dan halangan inilah yang kadang bikin susah, ada saja kejadian di TKP yang
membuat saya pusing tujuh keliling. Setiap pekerjaan memang memiliki resiko dan
saya rasa inilah resiko saya sebagai orang ketiga panggilan.
Perkenalkan nama saya Doyoung
Nugroho, status saya yang tertera di KTP masih pelajar karena saya belum
berniat untuk menikah, maklum selain belum ada niat menikah, calon saya pun
masih dijaga sama orang lain. Alasan saya memilih pekerjaan sampingan sebagai
orang ketiga cukup klasik karena saya tidak punya uang jajan lebih untuk
membeli es rujak mak Hyorin. Semua berkat Pak Haechul yang senantiasa
mengumandangkan pidato wirausaha sejak dini ketika upacara bendera sehingga
membuat saya terinspirasi.
Suka duka menjadi orang ketiga
sangat banyak dan kali ini saya hanya mengambil dua tiga kisah, karena kalau
saya sebut semua, saya sangsi kisah saya tidak lebih dari ketentuan 1000
kalimat, kasihan penulis kalau harus merangkum kisah rumit saya yang lebih
rumit dari sinetron anak emperan dan anak angkasa.
Saya mengawali pekerjaan sampingan
ini sekitar dua tahun lalu, sebenarnya tidak sengaja saya menemukan mata
pencaharian ini. Kala itu musim kemarau, matahari sedang berada di puncak dan
terik sekali sampai burung pun enggan bertengger di kabel listrik, takut jadi
burung panggang mungkin, dan saya begitu haus sementara uang jajan sudah habis
untuk membayar uang kas. Saat itulah teman saya Lucas Adinegara meminta bantuan
saya untuk menjadi orang ketiga dengan imbalan traktiran es rujak mak Hyorin
seminggu penuh tanpa batas budget.
Orang ketiga yang Lucas maksud buka
orang ketika seperti pelakor dan sebangsanya, malah lebih mirip obat nyamuk
karena saya hanya menemani Lucas sementara dia dan cemcemannya berduaan.
Menemani mereka untuk menghindari kejadian diluar jalan Tuhan.
Berkat mulut ember Lucas,
satu-persatu klien saya berdatangan
meminta bantuan. Dari yang hanya es rujak lima ratus perak menjadi lima puluh
ribu sekali jasa. Wadow, senang bukan kepalang lah saya, cuma duduk nemenin
doang bisa berpenghasilan seperti orang kantoran.
Salah satu kejadian yang tidak bisa
saya lupakan adalah ketika Kak Jinyoung Pramasta meminta bantuan saya, dengan
dingin dia berkata “Nanti kamu datang saja ke café Olive jam sepuluh tepat dan
selanjutnya itu urusan saya, kamu cukup diam.”
“Café Olive ya, oke deh kak."
***
TKP, Café Olive jam 10.00
Saya sudah duduk di salah satu meja
tapi tak kunjung menemukan keberadaan Kak Jinyoung, padahal dia memberikan
ultimatum untuk berada di café pukul sepuluh tepat. Saya dikejutkan oleh
kedatangan seorang wanita cantik, dia duduk di depan saya dan menatap saya
nyalang.
“Anda siapa ya?” saya sopan bertanya
tapi dia langsung nyolot dan menyembur saya dengan kata-kata menusuk kalbu.
“Saya yang harusnya nanya kamu siapa?”
wanita itu mengibaskan rambut seperti bintang iklan shampoo “Kenapa harus
Jinyoung saya! Kenapa bukan orang lain? Sebegitu kurangkah populasi wanita di
bumi sampai yang sejenis juga kamu comot?”
“Tu—tunggu mbak kayaknya salah
paham.” Saya melotot, syok betul atas ucapan wanita ini “Saya masih normal
mbak, kalau mbak mau bukti saya bisa berikan.”
“Halah, saya nggak perlu bukti,”
sahutnya “Pokoknya saya nggak mau tahu, kamu harus jauh-jauh sama Jinyoung atau
….”
Saya
menaikan alis heran dan wanita itu tersenyum mengerikan, samar saya
lihat tanduk iblis muncul di kepalanya “The end.” Dia menaruh satu tangan di
leher seolah itu adalah golok.
“Sebelum lo melakukan itu ke
Doyoung, langkahi dulu mayat gue.”
Saya kaget setengah hidup saat Kak Jinyoung menarik
lengan saya untuk berdiri.
“Oh jadi namanya Duyung. Eh Duyung,
daripada rebut Jinyoung mending balik deh jadi bintang sinetron Duyung in
Love!” wanita itu memekik sebal.
“JISOO!”
“JINYOUNG!”
“Doyoung.” Kata saya agar eksistensi
saya tidak dilupakan.
Mbak Jisoo menggebrak meja, dengan
wajah merana ia berucap “Apa sih kurangnya aku Jin sampai kamu milih cowok
sebagai pengganti aku, apa dada aku kurang gede atau paha aku kurang mulus?
Astaga Jin, kamu sadar nggak sih kamu tuh bikin harga diri aku terluka.”
Saya cengo, ingin sekali saya
membalas tapi Kak Jinyoung meremas tangan saya membuat saya ngeri. Jika bukan
karena upah, sudah dipastikan saya sudah kabur dari sini.
“Tapi gue udah gak cinta sama lo!”
“Aku masih sayang sama kamu Jin.”
Mbak Jisoo menangis pilu sampai menjadi tontonan gratis pengunjung café ini.
Saya malu sekali huhuhuhu, beginikah rasanya menjadi orang ketika sungguhan.
“Kamu akan menyesal Jinyoung
pramasta,” ancam mbak Jisoo dengan mascara yang sudah meluber di sekeliling
mata “Ternyata zaman now pelakor
bukan cuma cewek, cowok pun bisa cih!” dan mbak Jisoo pun pergi meninggalkan
kami yang masih menjadi bahan tontonan orang. Aku sangat berharap semoga
seseorang tidak memposting kejadian ini di sosmed dengan caption nyeleneh seperti seorang pria meninggalkan pacarnya demi
pria lain.
Hiiiiii, mengerikan
.
“Sorry.”
Saya tertawa canggung “No problem bray, sudah tugas saya.”
Dan setelah kejadian ini saya demam
dua hari dan enggan menerima orderan hingga kini. Masih truma fufufufu. Entah
kapan saya akan kembali menjadi orang ketiga, saya masih kurang tahu. Namun
saat saya kembali nanti, saya pastikan bahwa kejadian kemarin tidak terulang
lagi.
FIN.

Komentar
Posting Komentar